‘Dark Ages’ Kehidupan Kampus

Dark Ages (Zaman kegelapan) merupakan sebuah zaman antara runtuhnya Kekaisaran dan Renaisans atau munculnya kembali peradaban lama. Di saat Zaman Kegelapan, segala keputusan pemerintah dan hukum negara tidak diambil berdasarkan demokrasi di parlemen seperti ketika zaman Kekaisaran Romawi. Keputusan tersebut diambil oleh majelis dewan Gereja. Tidak setiap individu berhak berpendapat karena pada zaman itu yang berhak mengeluarkan pendapat dan keputusan adalah para ahli agama katolik.

Tetapi,Dark Ages(Zaman Kegelapan) yang akan saya bahas di sini erat kaitannya dengan kemandeg-an,kemonoton-an atau apapun yang mempunyai definisi yang sama dengan kata kerja tersebut. Dan ya,sesuai judulnya menyinggung situasi dan kondisi di kampus.

Kampus bagi mayoritas Mahasiswa merupakan tempat mengalokasikan mayoritas waktunya sehari-hari dan banyak diisi dengan kegiatan apapun seperti kelas/kuliah,nongkrong, rapat organisasi dsb,tetapi saya lebih melihat dari ketiga contoh tersebut mayoritas waktu dialokasikan untuk ‘nongkrong’ atau hal-hal yang non-esensial lainnya yang saya beranggapan menjadi penyebab banyaknya kritikan yang ditujukan kepada teman-teman Mahasiswa sekarang ini.

Pemuda berpredikat ‘Mahasiswa’ (definisi dari Mahasiswa teman-teman mungkin lebih tau dari saya)  adalah bisa disebut kelas pemuda yang ‘katanya’ adalah generasi penerus bangsa, negara ada ditangan mereka kelak (iron stock), dan lain sebagainya.

Sebagian orang awam mungkin berpendapat bahwa Mahasiswa fungsinya hanya demo turun kejalan bikin gaduh suasana saja, terpintas mungkin ada benarnya disamping banyak kegiatan Mahasiswa yang bermanfaat juga bagi masyarakat sekitar sesuai dengan fungsinya yaitu agent of change.

Balik ke pertanyaan besar,saya menyinggung adanya kemandeg-an,dan kemonoton-an. Apa yang mandeg atau monoton?

Jawabannya tentu ada yang berpendapat cara Mahasiswa bergerak atau keliru dalam meprioritaskan apa yang harus ‘diurus’ oleh Mahasiswa sendiri.

Faktor-faktor kemandeg-an dan kemonton-an yang dialami oleh Mahasiswa sendiri erat kaitannya disebabkan oleh apa yang mereka “makan” sehari-hari di kampus, banyak praktek-praktek yang saya sebut non-esensial di kampus seperti menghabiskan mayoritas waktu hanya untuk ‘nongkrong’ entah kemauannya sendiri atau ditahan ‘abang-abang’? jujur tidak ada yang salah dengan hal tersebut terlebih lagi penulis disini juga melakukan hal tersebut, tapi jika menghabiskan mayoritas waktu hanya untuk itu apa kemandeg-an dan kemonoton-an dalam berpikir bisa teratasi?

Terlebih lagi system pengkaderan dari organisasi kampus yang saya sendiri mengalaminya, memang segala sesuatu ada plus-minus tetapi yang sangat membekas di kepala saya bahwa pengkaderan yang ada di kampus hanya ajang unjuk eksistensi minim esensi,unjuk gigi senior kepada junior,yang bisa jadi condong kepada perploncoan secara halus? mungkin dikarenakan system pengkaderan kampus juga yang seperti itu-itu saja dan tidak mengikuti zaman yang saya sendiri tidak tahu penyebabnya atau mungkin penyebabnya dihambat oleh ‘abang-abang’ ketika ada pejabat kampus yang ingin membuat perubahan?

Hal tersebut saya yakini sebagai penyebab Mahasiswa mandeg dan monoton dalam berpikir dan mengimplementasikan apa yang harus dilakukannya untuk kemaslahatan negara dan masyarakatnya sampai-sampai kebiasaan buruk pejabat pemerintahan yang doyan ‘olah-olah” sudah di praktikan oleh ‘oknum’ Mahasiswa di ruang lingkup kampus atau Universitas.

Terlebih lagi tuntutan zaman yang semakin ‘gaib’ atau disebut era Disrupsi yang arti dari Disrupsi adalah sebuah inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru. Disrupsi berpotensi menggantikan pemain-pemain lama dengan yang baru. Disrupsi menggantikan teknologi lama yang serbafisik dengan teknologi digital yang menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru dan lebih efisien, juga lebih bermanfaat.

Dari penjelasan singkat tentang Era Disrupsi tersebut dapat disimpulkan kita sudah memasukin era digitalisasi yang apa-apa serba cepat dan mempunyai fungsi yang bersaing.

Dari tulisan saya di atas saya hanya berusaha mengingatkan dan mepertanyakan kepada pembaca sekalian apa yang terjadi di masa depan jika budaya-budaya tersebut masih marak terjadi di kampus?

Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Muhammad Ardin Ardiansyah

2 Mei 2020

Published by Muhammad Ardin Ardiansyah

Absolute Entity.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started